Tampilkan postingan dengan label OASE. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label OASE. Tampilkan semua postingan
26 Desember 2008
PAHLAWAN ATAU IDOLA?
"Pahlawan adalah mereka yang mengerti arti tanggung jawab di balik
kebebasan mereka untuk melakukan apa pun." (Bob Dylan)
Jika Anda mendengar kata 'pahlawan', siapakah yang akan segera
muncul dalam pikiran Anda? Apakah Anda teringat dengan foto-foto
Jenderal Sudirman, Pangeran Diponegoro, Cut Nyak Dien, atau
Pattimura yang tergantung berderet di ruang kelas kita waktu sekolah
dahulu?
Namun, kalau kita menengok ke dalam hati dan pikiran kita,
sebenarnya jika kita mengingat nama-nama para pahlawan nasional yang
kita dengar saat sekolah, kita malah menganggap kisah mereka seperti
dongeng atau hanyalah kisah sejarah yang sama sekali tidak memiliki
ikatan emosional dengan kita.
Inilah sebabnya mengapa hari-hari ini kita sulit sekali
mengidentifikasikan sosok pahlawan dalam hidup kita. Bahkan jika
kita bertanya kepada generasi muda hari ini, mungkin mereka akan
menjawab bahwa pahlawan mereka adalah para artis atau penyanyi band
yang sangat mereka puja-puji.
Sebuah survei pernah dilakukan di AS terhadap para siswa sekolah.
Mereka ditanya siapakah yang mereka anggap sebagai pahlawan.
Lima puluh tahun yang lalu pertanyaan ini pernah diajukan kepada
siswa sekolah dan jawaban mereka adalah nama-nama para presiden dan
para pejuang nasional yang banyak membawa perubahan hidup bangsa AS.
Namun, setelah 50 tahun berlalu, ketika pertanyaan yang sama
diajukan kepada kelompok masyarakat dengan usia dan profesi yang
sama, jawaban yang dihasilkan sungguh sangat mencengangkan. Mereka
menyebutkan nama-nama artis Hollywood dan para penyanyi terkenal
sebagai pahlawan mereka. Jangan-jangan fenomena yang sama akan kita
dapatkan jika kita melakukan survei ini kepada siswa-siswa di
Indonesia.
Prinsip kehidupan
Sekarang kita semakin sulit membedakan antara pahlawan dan idola.
Mungkin kita menganggap orang yang kita idolakan dan kita puja-puji
sebagai pahlawan. Padahal, antara pahlawan dan idola jelas memiliki
perbedaan yang mencolok. Bagi saya, pahlawan adalah orang-orang yang
memiliki nilai dan prinsip kehidupan yang bermakna dan layak untuk
kita adopsi.
Kepahlawanan berbeda dengan sekadar menjadi tokoh idola. Pahlawan
selalu memiliki nilai-nilai positif yang bisa kita pelajari. Bahkan
tidak jarang nilai-nilai kehidupan mereka berhasil 'mencelikkan'
mata hati kita dan 'menyelamatkan' kehidupan kita.
Jika Anda mempelajari kehidupan para pahlawan, Anda akan menemukan
banyak hal positif yang bisa Anda pelajari. Hal-hal positif itu
adalah nilai-nilai kekal yang bisa Anda pakai seumur hidup Anda.
Inilah yang membuat para pahlawan memiliki pengikut setia yang juga
mengidolakan mereka, tetapi tidak semua idola bisa menjadi pahlawan
yang dikenang sepanjang masa.
Saya sangat mengagumi sosok Muhammad Hatta yang rendah hati, cerdas,
terpelajar, tidak mengejar kekuasaan, tidak menyalahgunakan
kekuasaannya meski memiliki kesempatan, dan selalu memikirkan
kepentingan bangsa dan rakyat di atas kepentingannya sendiri.
Muhammad Hatta selalu bertindak atas dasar prinsip-prinsip
kebenaran, bukan atas dasar kepentingan pribadinya.
Dari contoh kecil ini, kita bisa simpulkan karakteristik
kepahlawanan yang bisa kita hidupi adalah keberanian mengambil
pilihan (choice) dan tindakan (action) dengan mengedepankan nilai-
nilai yang benar (correct values).
Sikap kepahlawanan yang setara dengan hal ini dalam bisnis adalah
tatkala seorang CEO memutuskan untuk memotong gajinya sendiri dan
menolak melakukan PHK terhadap karyawannya. Salah satu sikap lainnya
adalah ketika seorang auditor dengan berani memutuskan untuk
membongkar korupsi seorang direktur BUMN yang dia tahu merugikan
negara.
Namun sayang, sikap kepahlawanan menjadi karakter yang langka dewasa
ini karena risiko yang harus ditanggung. Belum lagi cibiran ataupun
cemoohan bahwa diri kita menjadi, "Sok jadi pahlawan!" dengan
mengambil langkah-langkah dan tindakan yang berdasarkan pada hal-hal
yang benar.
Nandini Cardoso, seorang penyair asal Goa India mengatakan kalimat
yang sangat bagus tatkala dia mengatakan, "Pahlawan setiap hari
adalah orang-orang yang menyentuh hati kita. Dan mereka meninggalkan
jejak kaki di hati kita yang mengubah kehidupan kita selamanya".
Kita pun sebenarnya mampu membangun mentalitas dan karakter
kepahlawanan dalam diri kita dengan tiga kunci di atas yaitu choice,
action, dan, correct values. Mari kita lihat satu demi satu.
Pertama soal pilihan. Banyak orang melarikan diri ketika
diperhadapkan dengan pilihan sulit. Bahkan demi menghindari risiko,
mereka tidak memilih sama sekali. Seorang pahlawan selalu memiliki
keberanian untuk mengambil keputusan berdasarkan pilihan yang ada.
Seorang pahlawan akan mengambil keputusan untuk dirinya sendiri dan
menentukan pilihannya sendiri. Tentu kita masih ingat film
Braveheart soal kepahlawanan William Wallace yang memutuskan memilih
untuk berteriak "Merdeka!" meski dia harus dihukum mati oleh pasukan
Inggris.
Begitu pula pilihan sulit ini dibuat oleh para pahlawan nasional
kita meski harus kehilangan kedudukan, bahkan nyawa mereka. Kita
sungguh belajar, kepahlawanan adalah soal keberanian memilih dalam
pilihan yang sulit.
Kemudian, selain memilih, seorang pahlawan juga bertindak sesuai
dengan apa yang sudah dia pilih. Banyak orang sudah menentukan
pilihannya, tetapi kemudian tidak melaksanakan pilihannya dengan
sungguh-sungguh.
Hal yang terakhir, pahlawan sejati akan memilih dan bertindak
berdasarkan nilai dan prinsip yang benar. Prinsip kebenaran selalu
bersifat umum dan tidak berkaitan dengan agama tertentu. Kejujuran,
mengutamakan kepentingan banyak orang, memberi orang lain sesuai
dengan haknya, bertanggung jawab, dan adil kepada semua orang adalah
contoh prinsip-prinsip kebenaran umum yang berlaku di setiap agama
dan setiap kehidupan di dunia ini.
Sumber: Pahlawan atau Idola? oleh Anthony Dio Martin, Managing
Director HR Excellency
kebebasan mereka untuk melakukan apa pun." (Bob Dylan)
Jika Anda mendengar kata 'pahlawan', siapakah yang akan segera
muncul dalam pikiran Anda? Apakah Anda teringat dengan foto-foto
Jenderal Sudirman, Pangeran Diponegoro, Cut Nyak Dien, atau
Pattimura yang tergantung berderet di ruang kelas kita waktu sekolah
dahulu?
Namun, kalau kita menengok ke dalam hati dan pikiran kita,
sebenarnya jika kita mengingat nama-nama para pahlawan nasional yang
kita dengar saat sekolah, kita malah menganggap kisah mereka seperti
dongeng atau hanyalah kisah sejarah yang sama sekali tidak memiliki
ikatan emosional dengan kita.
Inilah sebabnya mengapa hari-hari ini kita sulit sekali
mengidentifikasikan sosok pahlawan dalam hidup kita. Bahkan jika
kita bertanya kepada generasi muda hari ini, mungkin mereka akan
menjawab bahwa pahlawan mereka adalah para artis atau penyanyi band
yang sangat mereka puja-puji.
Sebuah survei pernah dilakukan di AS terhadap para siswa sekolah.
Mereka ditanya siapakah yang mereka anggap sebagai pahlawan.
Lima puluh tahun yang lalu pertanyaan ini pernah diajukan kepada
siswa sekolah dan jawaban mereka adalah nama-nama para presiden dan
para pejuang nasional yang banyak membawa perubahan hidup bangsa AS.
Namun, setelah 50 tahun berlalu, ketika pertanyaan yang sama
diajukan kepada kelompok masyarakat dengan usia dan profesi yang
sama, jawaban yang dihasilkan sungguh sangat mencengangkan. Mereka
menyebutkan nama-nama artis Hollywood dan para penyanyi terkenal
sebagai pahlawan mereka. Jangan-jangan fenomena yang sama akan kita
dapatkan jika kita melakukan survei ini kepada siswa-siswa di
Indonesia.
Prinsip kehidupan
Sekarang kita semakin sulit membedakan antara pahlawan dan idola.
Mungkin kita menganggap orang yang kita idolakan dan kita puja-puji
sebagai pahlawan. Padahal, antara pahlawan dan idola jelas memiliki
perbedaan yang mencolok. Bagi saya, pahlawan adalah orang-orang yang
memiliki nilai dan prinsip kehidupan yang bermakna dan layak untuk
kita adopsi.
Kepahlawanan berbeda dengan sekadar menjadi tokoh idola. Pahlawan
selalu memiliki nilai-nilai positif yang bisa kita pelajari. Bahkan
tidak jarang nilai-nilai kehidupan mereka berhasil 'mencelikkan'
mata hati kita dan 'menyelamatkan' kehidupan kita.
Jika Anda mempelajari kehidupan para pahlawan, Anda akan menemukan
banyak hal positif yang bisa Anda pelajari. Hal-hal positif itu
adalah nilai-nilai kekal yang bisa Anda pakai seumur hidup Anda.
Inilah yang membuat para pahlawan memiliki pengikut setia yang juga
mengidolakan mereka, tetapi tidak semua idola bisa menjadi pahlawan
yang dikenang sepanjang masa.
Saya sangat mengagumi sosok Muhammad Hatta yang rendah hati, cerdas,
terpelajar, tidak mengejar kekuasaan, tidak menyalahgunakan
kekuasaannya meski memiliki kesempatan, dan selalu memikirkan
kepentingan bangsa dan rakyat di atas kepentingannya sendiri.
Muhammad Hatta selalu bertindak atas dasar prinsip-prinsip
kebenaran, bukan atas dasar kepentingan pribadinya.
Dari contoh kecil ini, kita bisa simpulkan karakteristik
kepahlawanan yang bisa kita hidupi adalah keberanian mengambil
pilihan (choice) dan tindakan (action) dengan mengedepankan nilai-
nilai yang benar (correct values).
Sikap kepahlawanan yang setara dengan hal ini dalam bisnis adalah
tatkala seorang CEO memutuskan untuk memotong gajinya sendiri dan
menolak melakukan PHK terhadap karyawannya. Salah satu sikap lainnya
adalah ketika seorang auditor dengan berani memutuskan untuk
membongkar korupsi seorang direktur BUMN yang dia tahu merugikan
negara.
Namun sayang, sikap kepahlawanan menjadi karakter yang langka dewasa
ini karena risiko yang harus ditanggung. Belum lagi cibiran ataupun
cemoohan bahwa diri kita menjadi, "Sok jadi pahlawan!" dengan
mengambil langkah-langkah dan tindakan yang berdasarkan pada hal-hal
yang benar.
Nandini Cardoso, seorang penyair asal Goa India mengatakan kalimat
yang sangat bagus tatkala dia mengatakan, "Pahlawan setiap hari
adalah orang-orang yang menyentuh hati kita. Dan mereka meninggalkan
jejak kaki di hati kita yang mengubah kehidupan kita selamanya".
Kita pun sebenarnya mampu membangun mentalitas dan karakter
kepahlawanan dalam diri kita dengan tiga kunci di atas yaitu choice,
action, dan, correct values. Mari kita lihat satu demi satu.
Pertama soal pilihan. Banyak orang melarikan diri ketika
diperhadapkan dengan pilihan sulit. Bahkan demi menghindari risiko,
mereka tidak memilih sama sekali. Seorang pahlawan selalu memiliki
keberanian untuk mengambil keputusan berdasarkan pilihan yang ada.
Seorang pahlawan akan mengambil keputusan untuk dirinya sendiri dan
menentukan pilihannya sendiri. Tentu kita masih ingat film
Braveheart soal kepahlawanan William Wallace yang memutuskan memilih
untuk berteriak "Merdeka!" meski dia harus dihukum mati oleh pasukan
Inggris.
Begitu pula pilihan sulit ini dibuat oleh para pahlawan nasional
kita meski harus kehilangan kedudukan, bahkan nyawa mereka. Kita
sungguh belajar, kepahlawanan adalah soal keberanian memilih dalam
pilihan yang sulit.
Kemudian, selain memilih, seorang pahlawan juga bertindak sesuai
dengan apa yang sudah dia pilih. Banyak orang sudah menentukan
pilihannya, tetapi kemudian tidak melaksanakan pilihannya dengan
sungguh-sungguh.
Hal yang terakhir, pahlawan sejati akan memilih dan bertindak
berdasarkan nilai dan prinsip yang benar. Prinsip kebenaran selalu
bersifat umum dan tidak berkaitan dengan agama tertentu. Kejujuran,
mengutamakan kepentingan banyak orang, memberi orang lain sesuai
dengan haknya, bertanggung jawab, dan adil kepada semua orang adalah
contoh prinsip-prinsip kebenaran umum yang berlaku di setiap agama
dan setiap kehidupan di dunia ini.
Sumber: Pahlawan atau Idola? oleh Anthony Dio Martin, Managing
Director HR Excellency
25 Maret 2008
DENGARKAN ALQURAN DAPAT SEMBUHKAN PENYAKIT
Sebuah penelitian yang diadakan Departemen Kesehatan Mesir menyimpulkan, mendengarkan Alquran dapat menghilangkan ketegangan, menguatkan kekebalan tubuh, menimbulkan perubahan positif terhadap jiwa dan sel-sel syaraf. Hal ini dapat terjadi pada setiap manusia, baik terhadap muslim maupun non-muslim. Demikian sebuah laporan penelitian yang dipublikasikan al-Ahram, Mesir.
Dalam publikasi itu dijelaskan, Departemen Kesehatan Mesir mengujicobakan penelitian ini terhadap 210 sukarelawan muslim dan non-muslim, berbahasa Arab dan tidak berbahasa Arab, berusia antara 17 hingga 40 tahun. Mereka diperintahkan untuk mendengarkan Alquran sebanyak 42 kali pertemuan dan hasilnya 79% dari mereka mengalami perubahan positif dan ketegangannya menurun.
Menurut para ilmuwan, ketegangan dapat melemahkan kerja antibodi dalam melawan virus atau penyakit yang masuk ke dalam tubuh. Sehingga, bila ketegangan menurun, antibodi dan kekebalan tubuh akan meningkat dan ini akan sangat bermanfaat bagi tubuh.
Sementara itu, bagi para netter atau para pekerja kantoran yang komputernya tersambung ke internet dapat mendengarkan Alquran sambil bekerja dengan men-download 30 juz Alquran di http://www.reciter.org. Dalam situs tersebut, netter dapat memilih surat dan ayat yang dikehendaki. Mudah-mudahan penyakit lahir dan batin kita terobati. (Yef)
Sumber : NU Online
Dalam publikasi itu dijelaskan, Departemen Kesehatan Mesir mengujicobakan penelitian ini terhadap 210 sukarelawan muslim dan non-muslim, berbahasa Arab dan tidak berbahasa Arab, berusia antara 17 hingga 40 tahun. Mereka diperintahkan untuk mendengarkan Alquran sebanyak 42 kali pertemuan dan hasilnya 79% dari mereka mengalami perubahan positif dan ketegangannya menurun.
Menurut para ilmuwan, ketegangan dapat melemahkan kerja antibodi dalam melawan virus atau penyakit yang masuk ke dalam tubuh. Sehingga, bila ketegangan menurun, antibodi dan kekebalan tubuh akan meningkat dan ini akan sangat bermanfaat bagi tubuh.
Sementara itu, bagi para netter atau para pekerja kantoran yang komputernya tersambung ke internet dapat mendengarkan Alquran sambil bekerja dengan men-download 30 juz Alquran di http://www.reciter.org. Dalam situs tersebut, netter dapat memilih surat dan ayat yang dikehendaki. Mudah-mudahan penyakit lahir dan batin kita terobati. (Yef)
Sumber : NU Online
ILMU MENUJU KEBAHAGIAAN
"Barangsiapa memperdalam agama Allah, maka Allah akan mencukupi kebutuhannya dan memberinya rizki dari jalan yang tidak pernah terduga". (Abu Hanifah dari Abdullah Hasan Az-Zubaidi)
"Sesungguhnya didalam penciptaan langit dan bumi dan dan pergantian malam dan
siang terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal". (Q.S. Ali Imran :190)
Manusia dalam hidupnya selalu merindukan kabahagiaan, oleh karenanya dalam
untaian do'a seringkali bermohon kepada Allah dengan mengucap "Ya Allah,
Anugrahkan bagi kami kebahagiaan didunia dan kebahagiaan diakhirat dan jauhkan
kami dari siksa neraka". Kerinduan akan kebahagian hanyalah sebuah impian yang
jauh dari kenyataan bilamana manusia tidak memamahi jalan untuk mencapainya.
Ilmu adalah jawaban yang dapat mengantarkan manusia kepada pintu kebahagiaan,
sebab dengan ilmulah apa yang diinginkan dari kebahagian dapat diraih. Dengan
ilmu manusia akan mendapatkan apa yang diinginkan dari kehidupan dunia ini dan
dengan ilmu pula kehidupan dan kenikmatan yang abadi diakhirat akan tercapai.
Begitu pentingnya ilmu sampai Allah meninggikan posisi orang yang berilmu
beberapa derajat lebih tinggi dari orang awam. "Allah akan meninggikan orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat". (Q.S. Al Mujaadalah:11).
Ketika manusia ingin mencapai kebahagian yang abadi dan hakiki diakhirat maka ia
harus memahami dan mendalami ilmu yang terkait dengan ajaran islam yang meliputi hubungan seseorang hambanya dengan Allah dan hubungan hamba dengan hamba yang lain.
Saat manusia menginginkan kebahagian didunia, maka ia pun harus memiliki ilmu
pengetahuan yang menunjang keberhasilan dalam mencapai tujuannya. Hanya orang yang mengerti ilmu tentang dagang yang dapat keuntungan dari usahanya dan hanya orang yang menguasai teknologi yang dapat menciptakan pesawat dengan ilmu pulalah manusia dapat menunaikan tugasnya sebagai khalifah dimuka bumi ini.
Ilmu yang diperlukan oleh manusia hanya dapat diperoleh dengan perjuangan dan
kesungguhan dalam mempelajarinya. Dia akan datang dengan sendirinya. Dalam
hadits Rasulullah : "Ilmu itu diperoleh melalui belajar, siapa dikehendaki oleh
Allah SWT kebaikan, maka ia memberi orang tersebut pemahaman tentang Agama"
(H.R. Bukhari).
Keistimewaan ilmu tidak menjadikannya sebagai tujuan akhir dari setiap
aktivitas, tetapi ilmu hanyalah sarana untuk mencapai tujuan. Dari sekian banyak
kebodohan manusia adalah ketidakmampuan membedakan sarana dan tujuan akhir, akan lebih berbahaya lagi, jika sara berubah menjadi tujuan dan tujuan menjadi
sarana. Kalau manusia menjadikan ilmu sebagai tujuan maka ilmu yang ia miliki
tidak dijadikan landasan untuk beramal, karena mereka belajar tujuannya hanya
untuk mendapatkan ilmu. Sehingga ilmu yang ia kuasai tidak diamalkan, maka
dengan demikian ilmu akan menjadi sia-sia dan tidak bermanfaat.
Orang bijak mengatakan; "Ilmu tanpa alam bagai pohon yang tidak berbuah". Ada
juga seorang ahlil hikmah yang mengatakan bahwa ilmu itu ibarat baterai (aki)
mobil. Semakin sering mobil digunakan, maka akan semakin besar pula muatan
listriknya, sebaliknya jika mobil itu tidak digunakan, maka baterainya akan
manjadi lemah dan akhirnya benar-benar rusak.
Semoga Allah membimbing diri dan keluarga untuk menuntuk ilmu-Nya Allah SWT,
yang kelak akan menghantarkan kebahagiaan dunia dan akhirat. Amin (Yef).
CINTA SEJATI....
Para penumpang bus memandang penuh simpati ketika wanita muda berpenampilan menarik dan bertongkat putih itu dengan hati-hati menaiki tangga. Dia membayar sopir bus lalu, dengan tangan meraba-raba kursi, dia berjalan menyusuri lorong sampai menemukan kursi yang tadi dikatakan kosong oleh si sopir. kemudian ia duduk, meletakkan tasnya dipangkuannya dan menyandarkan tongkatnya pada tungkainya.
Setahun sudah lewat sejak Susan, 34, menjadi buta. Gara-gara salah diagnosa dia kehilangan penglihatannya dan terlempar kedunia yang gelap gulita, penuh amarah, frustrasi dan rasa kasihan pada diri sendiri. Sebagai wanita yang independen, Susan merasa terkutuk oleh nasib mengerikan yang membuatnya kehilangan kemampuan, merasa tak berdaya dan menjadi beban bagi semua orang disekelilingnya. "Bagaimana mungkin ini bisa terjadi padaku?" dia bertanya-tanya, hatinya mengeras karena marah. Tetapi. betapapun seringnya ia menangis atau menggerutu atau berdoa, dia mengerti kenyataan yang menyakitkan itu --penglihatannya takkan pernah pulih lagi. Depresi mematahkan semangat Susan yang tadinya selalu optimis. Mengisi waktu seharian kini merupakan perjuangan berat yang menguras tenaga dan membuatnya frustrasi.
Dia menjadi sangat bergantung pada Mark, suaminya. Mark seorang perwira Angkatan Udara. Dia mencintai Susan dengan tulus. Ketika istrinya baru kehilangan penglihatannya, dia melihat bagaimana Susan tenggelam dalam keputusasaan. Mark bertekad untuk membantunya menemukan kembali kekuatan dan rasa percaya diri yang dibutuhkan Susan untuk menjadi mandiri lagi. Latar belakang militer Mark membuatnya terlatih untuk menghadapi berbagai situasi darurat, tetapi dia tahu, ini adalah pertempuran yang paling sulit yang pernah dihadapinya.
Akhirnya Susan merasa siap bekerja lagi. Tetapi, bagaimana dia akan bisa ke kantornya? Dulu Susan biasa naik bus, tetapi sekarang terlalu takut untuk pergi ke
kota sendirian. Mark menawarkan untuk mengantarkannya setiap hari, meskipun tempat kerja mereka terletak dipinggir kota yang berseberangan. Mula - mula, kesepakatan itu membuat Susan nyaman dan Mark puas karena bisa melindungi istrinya yang buta, yang tidak yakin akan bisa melakukan hal-hal paling sederhana sekalipun. Tetapi, Mark segera menyadari bahwa pengaturan itu keliru -- membuat mereka terburu-buru, dan terlalu mahal. Susan harus belajar naik bus lagi, Mark menyimpulkan dalam hati. tetapi, baru berpikir untuk menyampaikan rencana itu kepada Susan telah membuatnya merasa tidak enak.
Susan masih sangat rapuh, masih sangat marah. Bagaimana reaksinya nanti? Persis seperti dugaan Mark, Susan ngeri mendengar gagasan untuk naik bus lagi. "Aku buta!" tukasnya dengan pahit. "Bagaimana aku bisa tahu kemana aku pergi? Aku merasa kau akan meninggalkanku" Mark sedih mendengar kata-kata itu, tetapi ia tahu apa yang harus dilakukan. Dia berjanji bahwa setiap pagi dan sore, ia akan naik bus bersama Susan, selama masih diperlukan, sampai Susan hafal dan bisa pergi sendiri. Dan itulah yang terjadi. Selama 2 minggu penuh Mark, menggunakan seragam militer lengkap, mengawal Susan ke dan dari tempat kerja, setiap hari. Dia mengajari Susan bagaimana menggantungkan diri pada indranya yang lain, terutama pendengarannya, untuk menemukan dimana ia berada dan bagaimana beradaptasi dengan lingkungan yang baru.
Dia menolong Susan berkenalan dan berkawan dengan sopir-sopir bus dan menyisakan 1 kursi kosong untuknya. Dia membuat Susan tertawa, bahkan pada hari-hari yang tidak terlalu menyenangkan ketika Susan tersandung dari bus, atau menjatuhkan tasnya yang penuh berkas di lorong bus. Setiap pagi mereka berangkat bersama - sama, setelah itu Mark akan naik taksi ke kantornya. Meskipun pengaturan itu lebih mahal dan melelahkan daripada yang pertama, Mark yakin bahwa hanya soal waktu sebelum Susan mampu naik bus tanpa dikawal. Mark percaya kepadanya, percaya kepada Susan yang dulu dikenalnya sebelum wanita itu kehilangan penglihatannya; wanita yang tidak pernah takut menghadapi tantangan apapun dan tidak akan pernah menyerah.
Akhirnya, Susan memutuskan bahwa dia siap untuk melakukan perjalanan itu seorang diri. Tibalah hari senin. Sebelum berangkat, Susan memeluk Mark yang pernah menjadi kawannya 1 bus dan sahabatnya yang terbaik. Matanya berkaca-kaca, penuh air mata syukur karena kesetiaan, kesabaran dan cinta Mark. Dia mengucapkan selamat berpisah. Untuk pertama kalinya mereka pergi kearah yang berlawanan. Senin, Selasa, Rabu, Kamis ... Setiap hari dijalaninya dengan sempurna. Belum pernah Susan merasa sepuas itu. Dia berhasil! Dia mampu berangkat kerja tanpa dikawal.
Pada hari Jum'at pagi, seperti biasa Susan naik bus ke tempat kerja. Ketika dia membayar ongkos bus sebelum turun, sopir bus itu berkata :"wah, aku iri padamu". Susan tidak yakin apakah sopir itu bicara kepadanya atau tidak. Lagipula, siapa yang bisa iri pada seorang wanita buta yang sepanjang tahun lalu berusaha menemukan keberanian untk menjalani hidup? Dengan penasaran, dia berkata kepada sopir, "Kenapa kau bilang kau iri kepadaku?" Sopir itu menjawab, "Kau pasti senang selalu dilindungi dan dijagai seperti itu". Susan tidak mengerti apa maksud sopir itu. Sekali lagi dia bertanya."Apa maksudmu?" Kau tahu minggu kemarin, setiap pagi ada seorang pria tampan berseragam militer berdiri di sudut jalan dan mengawasimu waktu kau turun dari bus.
Dia memastikan bahwa kau menyeberang dengan selamat dan dia mengawasimu terus sampai kau masuk ke kantormu. Setelah itu dia meniupkan ciuman, memberi hormat ala militer, lalu pergi. Kau wanita yang beruntung". kata sopir itu. Air mata bahagia membasahi pipi Susan. Karena meskipun secara fisik tidak dapat melihat Mark, dia selalu bisa memastikan kehadirannya. Dia beruntung, sangat beruntung, karena Mark memberikannya hadiah yang jauh lebih berharga daripada penglihatan, hadiah yang tak perlu dilihatnya dengan matanya untuk meyakinkan diri -- hadiah cinta yang bisa menjadi penerang dimanapun ada kegelapan. (Yef)
Setahun sudah lewat sejak Susan, 34, menjadi buta. Gara-gara salah diagnosa dia kehilangan penglihatannya dan terlempar kedunia yang gelap gulita, penuh amarah, frustrasi dan rasa kasihan pada diri sendiri. Sebagai wanita yang independen, Susan merasa terkutuk oleh nasib mengerikan yang membuatnya kehilangan kemampuan, merasa tak berdaya dan menjadi beban bagi semua orang disekelilingnya. "Bagaimana mungkin ini bisa terjadi padaku?" dia bertanya-tanya, hatinya mengeras karena marah. Tetapi. betapapun seringnya ia menangis atau menggerutu atau berdoa, dia mengerti kenyataan yang menyakitkan itu --penglihatannya takkan pernah pulih lagi. Depresi mematahkan semangat Susan yang tadinya selalu optimis. Mengisi waktu seharian kini merupakan perjuangan berat yang menguras tenaga dan membuatnya frustrasi.
Dia menjadi sangat bergantung pada Mark, suaminya. Mark seorang perwira Angkatan Udara. Dia mencintai Susan dengan tulus. Ketika istrinya baru kehilangan penglihatannya, dia melihat bagaimana Susan tenggelam dalam keputusasaan. Mark bertekad untuk membantunya menemukan kembali kekuatan dan rasa percaya diri yang dibutuhkan Susan untuk menjadi mandiri lagi. Latar belakang militer Mark membuatnya terlatih untuk menghadapi berbagai situasi darurat, tetapi dia tahu, ini adalah pertempuran yang paling sulit yang pernah dihadapinya.
Akhirnya Susan merasa siap bekerja lagi. Tetapi, bagaimana dia akan bisa ke kantornya? Dulu Susan biasa naik bus, tetapi sekarang terlalu takut untuk pergi ke
kota sendirian. Mark menawarkan untuk mengantarkannya setiap hari, meskipun tempat kerja mereka terletak dipinggir kota yang berseberangan. Mula - mula, kesepakatan itu membuat Susan nyaman dan Mark puas karena bisa melindungi istrinya yang buta, yang tidak yakin akan bisa melakukan hal-hal paling sederhana sekalipun. Tetapi, Mark segera menyadari bahwa pengaturan itu keliru -- membuat mereka terburu-buru, dan terlalu mahal. Susan harus belajar naik bus lagi, Mark menyimpulkan dalam hati. tetapi, baru berpikir untuk menyampaikan rencana itu kepada Susan telah membuatnya merasa tidak enak.
Susan masih sangat rapuh, masih sangat marah. Bagaimana reaksinya nanti? Persis seperti dugaan Mark, Susan ngeri mendengar gagasan untuk naik bus lagi. "Aku buta!" tukasnya dengan pahit. "Bagaimana aku bisa tahu kemana aku pergi? Aku merasa kau akan meninggalkanku" Mark sedih mendengar kata-kata itu, tetapi ia tahu apa yang harus dilakukan. Dia berjanji bahwa setiap pagi dan sore, ia akan naik bus bersama Susan, selama masih diperlukan, sampai Susan hafal dan bisa pergi sendiri. Dan itulah yang terjadi. Selama 2 minggu penuh Mark, menggunakan seragam militer lengkap, mengawal Susan ke dan dari tempat kerja, setiap hari. Dia mengajari Susan bagaimana menggantungkan diri pada indranya yang lain, terutama pendengarannya, untuk menemukan dimana ia berada dan bagaimana beradaptasi dengan lingkungan yang baru.
Dia menolong Susan berkenalan dan berkawan dengan sopir-sopir bus dan menyisakan 1 kursi kosong untuknya. Dia membuat Susan tertawa, bahkan pada hari-hari yang tidak terlalu menyenangkan ketika Susan tersandung dari bus, atau menjatuhkan tasnya yang penuh berkas di lorong bus. Setiap pagi mereka berangkat bersama - sama, setelah itu Mark akan naik taksi ke kantornya. Meskipun pengaturan itu lebih mahal dan melelahkan daripada yang pertama, Mark yakin bahwa hanya soal waktu sebelum Susan mampu naik bus tanpa dikawal. Mark percaya kepadanya, percaya kepada Susan yang dulu dikenalnya sebelum wanita itu kehilangan penglihatannya; wanita yang tidak pernah takut menghadapi tantangan apapun dan tidak akan pernah menyerah.
Akhirnya, Susan memutuskan bahwa dia siap untuk melakukan perjalanan itu seorang diri. Tibalah hari senin. Sebelum berangkat, Susan memeluk Mark yang pernah menjadi kawannya 1 bus dan sahabatnya yang terbaik. Matanya berkaca-kaca, penuh air mata syukur karena kesetiaan, kesabaran dan cinta Mark. Dia mengucapkan selamat berpisah. Untuk pertama kalinya mereka pergi kearah yang berlawanan. Senin, Selasa, Rabu, Kamis ... Setiap hari dijalaninya dengan sempurna. Belum pernah Susan merasa sepuas itu. Dia berhasil! Dia mampu berangkat kerja tanpa dikawal.
Pada hari Jum'at pagi, seperti biasa Susan naik bus ke tempat kerja. Ketika dia membayar ongkos bus sebelum turun, sopir bus itu berkata :"wah, aku iri padamu". Susan tidak yakin apakah sopir itu bicara kepadanya atau tidak. Lagipula, siapa yang bisa iri pada seorang wanita buta yang sepanjang tahun lalu berusaha menemukan keberanian untk menjalani hidup? Dengan penasaran, dia berkata kepada sopir, "Kenapa kau bilang kau iri kepadaku?" Sopir itu menjawab, "Kau pasti senang selalu dilindungi dan dijagai seperti itu". Susan tidak mengerti apa maksud sopir itu. Sekali lagi dia bertanya."Apa maksudmu?" Kau tahu minggu kemarin, setiap pagi ada seorang pria tampan berseragam militer berdiri di sudut jalan dan mengawasimu waktu kau turun dari bus.
Dia memastikan bahwa kau menyeberang dengan selamat dan dia mengawasimu terus sampai kau masuk ke kantormu. Setelah itu dia meniupkan ciuman, memberi hormat ala militer, lalu pergi. Kau wanita yang beruntung". kata sopir itu. Air mata bahagia membasahi pipi Susan. Karena meskipun secara fisik tidak dapat melihat Mark, dia selalu bisa memastikan kehadirannya. Dia beruntung, sangat beruntung, karena Mark memberikannya hadiah yang jauh lebih berharga daripada penglihatan, hadiah yang tak perlu dilihatnya dengan matanya untuk meyakinkan diri -- hadiah cinta yang bisa menjadi penerang dimanapun ada kegelapan. (Yef)
24 Maret 2008
SESEORANG DAPAT BERPIKIR KAPANPUN DAN DIMANAPUN
Berpikir tidaklah memerlukan waktu, tempat ataupun kondisi khusus. Seseorang dapat berpikir sambil berjalan di jalan raya, ketika pergi ke kantor, mengemudi mobil, bekerja di depan komputer, menghadiri pertemuan dengan rekan-rekan, melihat TV ataupun ketika sedang makan siang. Misalnya: di saat sedang mengemudi mobil, seseorang melihat ratusan orang berada di luar. Ketika menyaksikan mereka, ia terdorong untuk berpikir tentang berbagai macam hal. Dalam benaknya tergambar penampilan fisik dari ratusan orang yang sedang disaksikannya yang sama sekali berbeda satu sama lain. Tak satupun diantara mereka yang mirip dengan yang lain. Sungguh menakjubkan: kendatipun orang-orang ini memiliki anggota tubuh yang sama, misalnya sama-sama mempunyai mata, alis, bulu mata, tangan, lengan, kaki, mulut dan hidung; tetapi mereka terlihat sangat berbeda satu sama lain. Ketika berpikir sedikit mendalam, ia akan teringat bahwa: Allah telah menciptakan bilyunan manusia selama ribuan tahun, semuanya berbeda satu dengan yang lain. Ini adalah bukti nyata tentang ke Maha Perkasaan dan ke Maha Besaran Allah.
Menyaksikan manusia yang sedang lalu lalang dan bergegas menuju tempat tujuan mereka masing-masing, dapat memunculkan beragam pikiran di benak seseorang. Ketika pertama kali memandang, muncul di pikirannya: manusia yang jumlahnya banyak ini terdiri atas individu-individu yang khas dan unik. Tiap individu memiliki dunia, keinginan, rencana, cara hidup, hal-hal yang membuatnya bahagia atau sedih, serta perasaannya sendiri. Secara umum, setiap manusia dilahirkan, tumbuh besar dan dewasa, mendapatkan pendidikan, mencari pekerjaan, bekerja, menikah, mempunyai anak, menyekolahkan dan menikahkan anak-anaknya, menjadi tua, menjadi nenek atau kakek dan pada akhirnya meninggal dunia. Dilihat dari sudut pandang ini, ternyata perjalanan hidup semua manusia tidaklah jauh berbeda; tidak terlalu penting apakah ia hidup di perkampungan di kota Istanbul atau di kota besar seperti Mexico, tidak ada bedanya sedikitpun. Semua orang suatu saat pasti akan mati, seratus tahun lagi mungkin tak satupun dari orang-orang tersebut yang akan masih hidup. Menyadari kenyataan ini, seseorang akan berpikir dan bertanya kepada dirinya sendiri: "Jika kita semua suatu hari akan mati, lalu apakah gerangan yang menyebabkan manusia bertingkah laku seakan-akan mereka tak akan pernah meninggalkan dunia ini? Seseorang yang akan mati sudah sepatutnya beramal secara sungguh-sungguh untuk kehidupannya setelah mati; tetapi mengapa hampir semua manusia berkelakuan seolah-olah hidup mereka di dunia tak akan pernah berakhir?"
Orang yang memikirkan hal-hal semacam ini lah yang dinamakan orang yang berpikir dan mencapai kesimpulan yang sangat bermakna dari apa yang ia pikirkan.
Sebagian besar manusia tidak berpikir tentang masalah kematian dan apa yang terjadi setelahnya. Ketika mendadak ditanya,"Apakah yang sedang anda pikirkan saat ini?", maka akan terlihat bahwa mereka sedang memikirkan segala sesuatu yang sebenarnya tidak perlu untuk dipikirkan, sehingga tidak akan banyak manfaatnya bagi mereka. Namun, seseorang bisa juga "berpikir" hal-hal yang "bermakna", "penuh hikmah" dan "penting" setiap saat semenjak bangun tidur hingga kembali ke tempat tidur, dan mengambil pelajaran ataupun kesimpulan dari apa yang dipikirkannya.
Dalam Al-Qur'an, Allah menyatakan bahwa orang-orang yang beriman memikirkan dan merenungkan secara mendalam segala kejadian yang ada dan mengambil pelajaran yang berguna dari apa yang mereka pikirkan.
"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka." (QS. Aali 'Imraan, 3: 190-191). Ayat di atas menyatakan bahwa oleh karena orang-orang yang beriman adalah mereka yang berpikir, maka mereka mampu melihat hal-hal yang menakjubkan dari ciptaan Allah dan mengagungkan Kebesaran, Ilmu serta Kebijaksanaan Allah.
Sumber ; http://www.geocities.com/pakdenono/
18 Maret 2008
MERDEKA & BERIMAN
Menjadi merdeka sifatnya wajib, karena itu bagian dari beriman.
Kalau Anda miskin dan karena miskin itu Anda jadi berkurang amalannya, maka bersungguh-sungguh untuk kaya adalah jihad (perjuangan) dalam rangka beriman. Sebaliknya, kalau Anda kaya, lalu karena kaya itu hidup Anda menjadi terikat dengan nikmat dunia, maka perjuangan Anda melepaskan diri dari keterikatan hawa nafsu dengan berusaha menjadi zuhud, adalah juga perjuangan dalam rangka beriman.
Kaya maupun miskin bisa sama buruknya maupun sama baiknya. Yang kaya dan buruk contohnya adalah Qorun. Yang kaya dan baik contohnya adalah Sulaiman. Kalau Anda menjadi miskin dan lalu menjadi ‘terjajah’ oleh manusia lain, maka Anda wajib memerdekakan diri. Kalau Anda menjadi kaya, lalu ‘terjajah’ juga oleh kekuasaan di tangan Anda itu sendiri sehingga melanggar perintah Allah, maka Anda juga wajib memerdekakan diri dari akibat kekayaan Anda itu. Jadi menjadi merdeka itu wajib, kaya dan miskin itu pilihan.
Itulah makna kalimat Laa ilaaha illa Allah. Tiada tuhan selain Allah. Artinya kita hanya boleh takluk (tidak merdeka) terhadap Allah. Kepada hal lainnya, yaitu makhluk-makhluk Allah, kita wajib merdeka. Kalau sekarang Anda sedang tidak merdeka dengan perintah-perintah bos Anda sehingga terpaksa melanggar perintah Allah, maka Anda wajib memerdekakan diri dengan berusaha mandiri, melepaskan ketergantungan diri terhadap bos Anda. Setiap usaha Anda untuk merdeka itu menjadi jihad yang bernilai ibadah kepada Allah. Kalau sekarang karena tidak punya uang maka Anda menjadi sulit untuk mengobati anak Anda yang sakit atau membiayai bersekolah, maka berusaha menjadi punya uang menjadi jihad.
Kalau Anda masih bodoh, dan karena bodoh itu menjadi sering tertipu, tidak bisa bekerja, dan menjadi tergantung pada orang lain, maka belajar agar pintar adalah sebuah perjuangan di jalan Allah, jihad fii sabiilillah.
Kalau Anda masih suka marah, menggerutu, dan mengomel, maka perjuangan Anda untuk menjadi sabar adalah juga jihad di jalan Allah.
Kalau Anda masih sering kecewa karena hal-hal dunia, maka belajar menjadi tabah dan sabar adalah juga jihad di jalan Allah.
Berjuang untuk merdeka adalah wujud dari beriman.
Begitu indahnya Islam, sehingga setiap usaha kita memerdekakan diri dari sesuatu yang membuat kita bergantung kepada selain Allah akan menjadi amal ibadah.
Karena itulah, mari kita syukuri kemerdekaan yang telah dikaruniakan kepada bangsa ini, kepada kita semua. Marilah kita syukuri kemerdekaan bangsa ini yang telah diperjuangkan oleh para pendahulu kita dengan dasar iman. Marilah kita isi dengan perjuangan lain yang membuat kita semua semakin merdeka dari hal-hal selain Tuhan. Semoga semua perjuangan itu menjadi amal ibadah yang memberikan sukses baik di dunia maupun akhirat kelak. Amin. (Yef)
Kalau Anda miskin dan karena miskin itu Anda jadi berkurang amalannya, maka bersungguh-sungguh untuk kaya adalah jihad (perjuangan) dalam rangka beriman. Sebaliknya, kalau Anda kaya, lalu karena kaya itu hidup Anda menjadi terikat dengan nikmat dunia, maka perjuangan Anda melepaskan diri dari keterikatan hawa nafsu dengan berusaha menjadi zuhud, adalah juga perjuangan dalam rangka beriman.
Kaya maupun miskin bisa sama buruknya maupun sama baiknya. Yang kaya dan buruk contohnya adalah Qorun. Yang kaya dan baik contohnya adalah Sulaiman. Kalau Anda menjadi miskin dan lalu menjadi ‘terjajah’ oleh manusia lain, maka Anda wajib memerdekakan diri. Kalau Anda menjadi kaya, lalu ‘terjajah’ juga oleh kekuasaan di tangan Anda itu sendiri sehingga melanggar perintah Allah, maka Anda juga wajib memerdekakan diri dari akibat kekayaan Anda itu. Jadi menjadi merdeka itu wajib, kaya dan miskin itu pilihan.
Itulah makna kalimat Laa ilaaha illa Allah. Tiada tuhan selain Allah. Artinya kita hanya boleh takluk (tidak merdeka) terhadap Allah. Kepada hal lainnya, yaitu makhluk-makhluk Allah, kita wajib merdeka. Kalau sekarang Anda sedang tidak merdeka dengan perintah-perintah bos Anda sehingga terpaksa melanggar perintah Allah, maka Anda wajib memerdekakan diri dengan berusaha mandiri, melepaskan ketergantungan diri terhadap bos Anda. Setiap usaha Anda untuk merdeka itu menjadi jihad yang bernilai ibadah kepada Allah. Kalau sekarang karena tidak punya uang maka Anda menjadi sulit untuk mengobati anak Anda yang sakit atau membiayai bersekolah, maka berusaha menjadi punya uang menjadi jihad.
Kalau Anda masih bodoh, dan karena bodoh itu menjadi sering tertipu, tidak bisa bekerja, dan menjadi tergantung pada orang lain, maka belajar agar pintar adalah sebuah perjuangan di jalan Allah, jihad fii sabiilillah.
Kalau Anda masih suka marah, menggerutu, dan mengomel, maka perjuangan Anda untuk menjadi sabar adalah juga jihad di jalan Allah.
Kalau Anda masih sering kecewa karena hal-hal dunia, maka belajar menjadi tabah dan sabar adalah juga jihad di jalan Allah.
Berjuang untuk merdeka adalah wujud dari beriman.
Begitu indahnya Islam, sehingga setiap usaha kita memerdekakan diri dari sesuatu yang membuat kita bergantung kepada selain Allah akan menjadi amal ibadah.
Karena itulah, mari kita syukuri kemerdekaan yang telah dikaruniakan kepada bangsa ini, kepada kita semua. Marilah kita syukuri kemerdekaan bangsa ini yang telah diperjuangkan oleh para pendahulu kita dengan dasar iman. Marilah kita isi dengan perjuangan lain yang membuat kita semua semakin merdeka dari hal-hal selain Tuhan. Semoga semua perjuangan itu menjadi amal ibadah yang memberikan sukses baik di dunia maupun akhirat kelak. Amin. (Yef)
SINGKATNYA HIDUP INI
Berapa usia Anda? Berapapun jawabannya saya yakin belum mencapai 0,15 detik waktu kosmik.
Hidup manusia ternyata sangat-sangat singkat. Rata-rata hanya 0,15 detik kosmik. Berapa lama itu? 70 tahun. Ya, 0,15 detik kosmik setara 70 tahun, karena 1 detik kosmik adalah 475 tahun.
Apa itu waktu kosmik? Ini adalah waktu yang menggambarkan umur alam semesta ini yang diperkirakan 15 milyar tahun. Sulit membayangkannya bukan? Karena itu para astronom mendefinisikan umur kosmik, yaitu dengan cara mengandaikan umur alam semesta seakan-akan hanya 1 tahun maka setiap detik kosmik adalah 475 tahun penanggalan bumi.
Dari umur kosmik itu kita menjadi tahu bahwa kebudayaan manusia yang tercatat sejarah baru 15 detik terakhir (diperkirakan saat munculnya ‘kota’ pertama jaman Neolitikum). Ibaratnya baru tanggal 31 desember pukul 11:59:35 malam sebelum tahun baru. Dan anda (termasuk juga saya) baru hadir di pukul 23:59:59,9… detik!
Kita hidup ternyata hanya sekejap. Saangat sekejap. Dan dalam waktu yang sangat sekejap itu masih ada orang yang rakus memakan dunia….
Demi masa, sesungguhnya manusia itu merugi. Kecuali mereka yang beriman dan beramal shaleh, dan saling menasehati akan kebenaran, dan saling menasehati akan kesabaran. (QS Al Ashr)
Hidup manusia ternyata sangat-sangat singkat. Rata-rata hanya 0,15 detik kosmik. Berapa lama itu? 70 tahun. Ya, 0,15 detik kosmik setara 70 tahun, karena 1 detik kosmik adalah 475 tahun.
Apa itu waktu kosmik? Ini adalah waktu yang menggambarkan umur alam semesta ini yang diperkirakan 15 milyar tahun. Sulit membayangkannya bukan? Karena itu para astronom mendefinisikan umur kosmik, yaitu dengan cara mengandaikan umur alam semesta seakan-akan hanya 1 tahun maka setiap detik kosmik adalah 475 tahun penanggalan bumi.
Dari umur kosmik itu kita menjadi tahu bahwa kebudayaan manusia yang tercatat sejarah baru 15 detik terakhir (diperkirakan saat munculnya ‘kota’ pertama jaman Neolitikum). Ibaratnya baru tanggal 31 desember pukul 11:59:35 malam sebelum tahun baru. Dan anda (termasuk juga saya) baru hadir di pukul 23:59:59,9… detik!
Kita hidup ternyata hanya sekejap. Saangat sekejap. Dan dalam waktu yang sangat sekejap itu masih ada orang yang rakus memakan dunia….
Demi masa, sesungguhnya manusia itu merugi. Kecuali mereka yang beriman dan beramal shaleh, dan saling menasehati akan kebenaran, dan saling menasehati akan kesabaran. (QS Al Ashr)
Langganan:
Postingan (Atom)